Bantu Petani Gurem Atasi Fluktuasi Harga: Strategi Tim SaClay Lolos Pendanaan PKM-KC

23 August 2026, 11:10

Oleh: Interdisciplinary Scientific Research UPNVY

 | 3 min read
4 days ago


Penulis: Tania Parelfi, Karima Fahama Rifa, dan Abyan Dwi Bastian.


Tim UKM Interdisciplinary Scientific Research (ISR) UPN "Veteran" Yogyakarta berhasil menghadirkan solusi SaClay sebuah inovasi tempat penyimpanan cabai pascapanen berbasis pot gerabah tradisional. Inovasi ini lahir dari keprihatinan terhadap petani gurem yang harus menelan akibat dari sulitnya masa simpan cabai yang singkat dan fluktuasi harga pasar yang gampang anjlok. Sekilas, bentuk dari SaClay mungkin tampak seperti wadah tanah liat biasa. Namun, didalamnya bekerja sistem pendingin alami yang dibantu kipas included draft untuk mengatur penguapan air secara optimal. Kini, tim tengah menyempurnakan fungsi dan desain prototipe ini dengan target besar memenangkan medali di panggung PIMNAS 39 Universitas Diponegoro tahun 2026, sekaligus membuka jalan komersialisasi agar SaClay bisa berdampak nyata bagi kesejahteraan petani kecil di Indonesia. 

Pemilihan skema PKM-Karsa Cipta (PKM-KC) oleh Tim SaClay bukanlah tanpa alasan. Pahlevi sebagai ketua tim menjelaskan bahwa sejak awal perancangan, timnya sudah membidik penggunaan algoritma machine learning, yaitu sebuah pendekatan teknologi yang memiliki porsi relevansi yang tinggi dalam skema PKM-KC. 

“Keunggulan utama SaClay terletak pada kemampuannya mengestimasi masa simpan cabai secara akurat menggunakan machine learning tanpa bergantung pada listrik PLN dan menawarkan harga produk yang sangat terjangkau bagi para petani gurem,” ungkap Pahlevi. 

Lantas, mengapa harus berbasis Internet of Things (IoT)?

Jawabannya terletak pada akurasi. Menjaga kesegaran komoditas hortikultura seperti cabai tidak lagi cukup dengan perkiraan visual semata. Sistem IoT pada SaClay bekerja layaknya indra buatan yang merekam parameter mikroklimat secara presisi dan real-time. Parameter tersebut mencakup Total Volatile Organic Compounds (TVOC), relative humidity, suhu, hingga estimasi konsentrasi CO2 yang kemudian dihimpun menjadi dataset untuk diolah menggunakan algoritma machine learning berbasis Support Vector Machine (SVM). Menyadari realita lapangan petani gurem yang umumnya memiliki keterbatasan modal dan akses pendidikan, maka hadirlah panel surya yang mandiri energi tanpa membebani biaya listrik petani gurem. 


Selain itu, SaClay ini dirancang agar sangat user-friendly dengan dua moda pemantauan seperti moda online dan moda offline. Melalui moda online yang terintegrasi dengan pasar pada platform web intuitif, petani dapat memantau parameter kualitas udara dan suhu secara langsung. Istimewanya, sistem ini dilengkapi fitur mirroring harga cabai yang terhubung secara real-time dengan situs resmi pemerintah. Petani tidak hanya tahu kondisi kesegaran cabainya, namun dapat menentukan momen penjualan terbaik berdasarkan fluktuasi harga pasar harian. Moda offline berbasis penginderaan visual, SaClay menyediakan solusi visual berbasis ilmiah menggunakan ruang warna CIELAB. Tim merancang peta color map yang mengukur nilai delta E yaitu sebuah indikator yang berkorelasi langsung dengan kadar air dan tingkat penyusutan bobot cabai. Hanya dengan mencocokkan warna cabai secara visual, petani dapat langsung memprediksi sisa masa simpan produk mereka secara akurat dan praktis.

Keberhasilan Tim SaClay menembus ketatnya pendanaan PKM-KC didorong oleh strategi penggalian ide yang matang, dimana mereka mengkaji berbagai inovasi global secara kritis untuk menemukan celah permasalahan yang paling mendesak dan relevan untuk diimplementasikan di Indonesia. Ketelitian administrasi menjadi kuncinya, mereka melatih kesabaran dalam melalui revisi berulang kali, menjaga kerapian format sesuai kaidah KBBI dan EYD, serta memanfaatkan AI guna memastikan gagasan tersampaikan secara efektif. Keharmonisan tim juga ditopang oleh pembagian peran yang terstruktur sesuai keahlian, tiga anggota dari Teknik Kimia berfokus pada analisis termodinamika dan material, sementara anggota dari Informatika memegang kendali atas integrasi IoT dan algoritma machine learning. Serta dipadukan dengan bimbingan dosen secara intensif untuk menguji dan menyempurnakan kualitas proposal.

Setelah pencapaian pendanaan ini, Tim SaClay terus menyempurnakan fungsi dan desain prototipe mereka untuk mendapatkan kesempatan pada PIMNAS 39 di Universitas Diponegoro Tahun 2026, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan institusi terkait agar SaClay dapat dikomersialkan secara terjangkau bagi petani gurem, pedagang eceran, hingga rumah tangga. Tim ini menitipkan pesan menginspirasi bagi mahasiswa yang ingin berjuang di PKM berikutnya untuk senantiasa menyertakan Allah Swt. dan memperbanyak doa di samping ikhtiar maksimal. Walaupun prosesnya menuntut pengorbanan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit, dampak signifikan terhadap pengembangan diri serta pola pikir membuat seluruh perjuangan tersebut sangat sepadan untuk memberikan usaha yang terbaik.


 

view 12

Comments (0)

No Comments Posted